Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat

BlogJurnalisme Utuh

Jurnalisme Utuh

Barangkali Tribun Timur hadir di saat yang tepat, ketika orang-orang tak sekadar dahaga kabar, tetapi juga memerlukan sikap jelas sang produsen kabar tentang apa yang dikabarkan dan tentang kepada siapa kabar itu ditaburkan.

Memasuki usia ketujuh reformasi, koran ini muncul merasuki nalar publik.

Kehadirannya tak didahului dengan survey sebagaimana halnya kandidat pilkada dan pilpres.

Tribun Timur meluncur begitu saja dari arah timur Negeri bagai bayi yang lahir dikala listrik padam.

Di zaman itu, demokratisasi sebagai buah manis reformasi masih gelap tak bercahaya. Apalagi reformasi sebagai induk, juga masih sangat belia.

Di zaman itu, orang-orang memburu kabar. Kabar bagai kebutuhan hidup. Apalagi masyarakat terpelajar, kabar laksana makanan yang diperlukan tubuh saban hari.

Di zaman itu, kabar mengungguli warkop.

Saya ingat betul bagaimana itu terjadi di lapis mahasiswa dan dosen. Di depan kampus IAIN Alauddin Makassar, di kawasan Jalan Sultan Alauddin, ada sebuah kios PKL yang menjajakan aneka koran dan majalah.

Kios itu terbuka setiap jam 08.00 pagi hingga jam 22.00. Pelanggann umumnya mahasiswa dan beberapa dosen muda.

Kios itu benar-benar menjual kabar. Orang-orang yang datang tak hanya untuk membeli koran, tabloid atau majalah lantas berlalu.

Tetapi pelanggan yang datang disana, berkerumun membaca majalah, koran, atau tabloid sesuai selera.

Tarifnya, seribu rupiah setiap koran/tabloid yang dibaca. Kalau majalah, tarifnya di atas lebih mahal dari koran/tabloid.

Itu menandakan, kabar benar-benar diincar warga. Dalam suasana begitulah, Tribun Timur hadir.

Ia tak saja melengkapi informasi yang dijajakan media maenstream saat itu. Tetapi kehadirannya menambah referensi kaum urban.

Halaman berita olah raga misalnya, Tribun menyajikannya secara intens–khusus kabar tentang PSM Makassar, grup sepak bola yang dicandui kaum kota dengan foto/gambar jumbo.

Terkait itu, di sini pula Tribun Timur menjadi peletak dasar karya jurnalisme lokal. Foto master (ukuran jumbo) di halaman HL dan rubrik olah aga selalu dihadirkan.

Soal gambar/foto HL, Tribun tak pelit. Barangkali ia hendak menerapkan sebuah konsep dalam ilmu pendidikan, bahwasannya daya tangkap mata jauh lebih kuat dan awet dibanding telinga.

Di jendela lain, khususnya politik–kita lihat bagaimana Tribun Timur muncul pada moment tepat jelang penerapan Pilkada langsung di negeri ini, tahun 2005 silam.

Berita politiknya yang “provokatif” seolah terlibat mengkonsolidasikan pentingnya demokrasi lokal dipraktikkan.

Dengan kata lain, Tribun Timur hadir kala itu boleh jadi merepresentasikan aspirasi publik tentang urgensi Pilkada langsung sebagai anak kandung reformasi.

Ia menulis politik dengan dinamika yang sebenarnya sebagai politik kewarganegaraan.

Itulah karenanya melahap Tribun kala itu, terkadang berasa aktivisme. Ada wacana, ada kritik, ada dialektika. Ini semua tersaji di atas panggung Tribun Timur.

Tribun Timur memanglah panggung. Tetapi, ia tak sekedar panggung wacana.

Tak lama setelah didirikan, ia langsung memerankan diri layaknya panggung sebagaimana makna namanya “Tribun”.

Di situ, orang-orang dari beragam kalangan-profesi berbondong datang; untuk sekedar ngopi di kantin, atau berdiskusi, atau promosi, atau mengadukan problemnya.

Di sinipun Tribun meletakkan tradisi baru media massa; “membuka pintu redaksi selebar mungkin untuk publik”. Tribun Timur anti pada kalimat pelit ini; “selain karyawan dilarang masuk”.

Tribun lantas melanjutkan tradisi itu dalam contentnya dengan menghadirkan “citizen report”. Dan kehadiran “forum dosen” mungkin pula salah satu wujud bagaimana Tribun terbuka untuk semua.

Tetapi Tribun Timur tak mengikuti jejak ibu kandungnya, Harian Kompas yang menyajikan resep dapur, resep mengatasi penyakit, atau teka teki silang (TTS).

Tribun tak menyajikan resep kuliner, tetapi menghadirkan produsen kuliner lokal. Tribun tak menghadirkan tips mengatasi rematik, asam urat, asam lambung dan resep mengatasi penyakit lainnya.

Dalam hal kesehatan, Tribun Timur mengabarkan bagaimana situasi Puskesmas nihil peralatan di pelosok desa terpencil. Atau ia memuat potret buruk layanan kesehatan dibeberapa tempat.

Seiring waktu, perubahan pun terjadi. Tekhnologi informasi berkembang, sebelum pesat, Tribun telah menyiapkan diri berdialektika di tengah kecanggihan tekhnologi informasi. Digitalisasi Tribun Timur pun termulai pada 2007 silam.

Dan di tengah massifnya penggunaan Medsos, digitalisasi Tribun Timur bergerak meninggalkan Tribun versi kertas. Digitalisasi melaju, versi cetak nyaris melapuk.

Di sini kita lantas tersadar kembali bahwa media massa punya hukum bisnis sendiri, ia bukan sekedar agent of change.

Tetapi hukum jurnalisme tetaplah berlaku. Di sana, ada fakta yang disiarkan, ada nama disebutkan, ada waktu dan tempat yang ditandakan, ada pula jawaban atas bagaimana dan mengapa.

Tribun Timur tetap hendak menampilkan manusia, alam dan peristiwa dengan konteks dan proses masing-masing ditengah perubahan yang terus bergelora.

Sebab tak ada kabar yang terhenti. Jurnalisme tetaplah utuh. Yang berubah hanyalah wadah. Dan Tribun Timur utuh menjalani itu hingga kini.(*)

Barangkali Tribun Timur hadir di saat yang tepat, ketika orang-orang tak sekadar dahaga kabar, tetapi juga memerlukan sikap jelas sang produsen kabar tentang apa yang dikabarkan dan tentang kepada siapa kabar itu ditaburkan.

Memasuki usia ketujuh reformasi, koran ini muncul merasuki nalar publik.

Kehadirannya tak didahului dengan survey sebagaimana halnya kandidat pilkada dan pilpres.

Tribun Timur meluncur begitu saja dari arah timur Negeri bagai bayi yang lahir dikala listrik padam.

Di zaman itu, demokratisasi sebagai buah manis reformasi masih gelap tak bercahaya. Apalagi reformasi sebagai induk, juga masih sangat belia.

Di zaman itu, orang-orang memburu kabar. Kabar bagai kebutuhan hidup. Apalagi masyarakat terpelajar, kabar laksana makanan yang diperlukan tubuh saban hari.

Di zaman itu, kabar mengungguli warkop.

Saya ingat betul bagaimana itu terjadi di lapis mahasiswa dan dosen. Di depan kampus IAIN Alauddin Makassar, di kawasan Jalan Sultan Alauddin, ada sebuah kios PKL yang menjajakan aneka koran dan majalah.

Kios itu terbuka setiap jam 08.00 pagi hingga jam 22.00. Pelanggann umumnya mahasiswa dan beberapa dosen muda.

Kios itu benar-benar menjual kabar. Orang-orang yang datang tak hanya untuk membeli koran, tabloid atau majalah lantas berlalu.

Tetapi pelanggan yang datang disana, berkerumun membaca majalah, koran, atau tabloid sesuai selera.

Tarifnya, seribu rupiah setiap koran/tabloid yang dibaca. Kalau majalah, tarifnya di atas lebih mahal dari koran/tabloid.

Itu menandakan, kabar benar-benar diincar warga. Dalam suasana begitulah, Tribun Timur hadir.

Ia tak saja melengkapi informasi yang dijajakan media maenstream saat itu. Tetapi kehadirannya menambah referensi kaum urban.

Halaman berita olah raga misalnya, Tribun menyajikannya secara intens–khusus kabar tentang PSM Makassar, grup sepak bola yang dicandui kaum kota dengan foto/gambar jumbo.

Terkait itu, di sini pula Tribun Timur menjadi peletak dasar karya jurnalisme lokal. Foto master (ukuran jumbo) di halaman HL dan rubrik olah aga selalu dihadirkan.

Soal gambar/foto HL, Tribun tak pelit. Barangkali ia hendak menerapkan sebuah konsep dalam ilmu pendidikan, bahwasannya daya tangkap mata jauh lebih kuat dan awet dibanding telinga.

Di jendela lain, khususnya politik–kita lihat bagaimana Tribun Timur muncul pada moment tepat jelang penerapan Pilkada langsung di negeri ini, tahun 2005 silam.

Berita politiknya yang “provokatif” seolah terlibat mengkonsolidasikan pentingnya demokrasi lokal dipraktikkan.

Dengan kata lain, Tribun Timur hadir kala itu boleh jadi merepresentasikan aspirasi publik tentang urgensi Pilkada langsung sebagai anak kandung reformasi.

Ia menulis politik dengan dinamika yang sebenarnya sebagai politik kewarganegaraan.

Itulah karenanya melahap Tribun kala itu, terkadang berasa aktivisme. Ada wacana, ada kritik, ada dialektika. Ini semua tersaji di atas panggung Tribun Timur.

Tribun Timur memanglah panggung. Tetapi, ia tak sekedar panggung wacana.

Tak lama setelah didirikan, ia langsung memerankan diri layaknya panggung sebagaimana makna namanya “Tribun”.

Di situ, orang-orang dari beragam kalangan-profesi berbondong datang; untuk sekedar ngopi di kantin, atau berdiskusi, atau promosi, atau mengadukan problemnya.

Di sinipun Tribun meletakkan tradisi baru media massa; “membuka pintu redaksi selebar mungkin untuk publik”. Tribun Timur anti pada kalimat pelit ini; “selain karyawan dilarang masuk”.

Tribun lantas melanjutkan tradisi itu dalam contentnya dengan menghadirkan “citizen report”. Dan kehadiran “forum dosen” mungkin pula salah satu wujud bagaimana Tribun terbuka untuk semua.

Tetapi Tribun Timur tak mengikuti jejak ibu kandungnya, Harian Kompas yang menyajikan resep dapur, resep mengatasi penyakit, atau teka teki silang (TTS).

Tribun tak menyajikan resep kuliner, tetapi menghadirkan produsen kuliner lokal. Tribun tak menghadirkan tips mengatasi rematik, asam urat, asam lambung dan resep mengatasi penyakit lainnya.

Dalam hal kesehatan, Tribun Timur mengabarkan bagaimana situasi Puskesmas nihil peralatan di pelosok desa terpencil. Atau ia memuat potret buruk layanan kesehatan dibeberapa tempat.

Seiring waktu, perubahan pun terjadi. Tekhnologi informasi berkembang, sebelum pesat, Tribun telah menyiapkan diri berdialektika di tengah kecanggihan tekhnologi informasi. Digitalisasi Tribun Timur pun termulai pada 2007 silam.

Dan di tengah massifnya penggunaan Medsos, digitalisasi Tribun Timur bergerak meninggalkan Tribun versi kertas. Digitalisasi melaju, versi cetak nyaris melapuk.

Di sini kita lantas tersadar kembali bahwa media massa punya hukum bisnis sendiri, ia bukan sekedar agent of change.

Tetapi hukum jurnalisme tetaplah berlaku. Di sana, ada fakta yang disiarkan, ada nama disebutkan, ada waktu dan tempat yang ditandakan, ada pula jawaban atas bagaimana dan mengapa.

Tribun Timur tetap hendak menampilkan manusia, alam dan peristiwa dengan konteks dan proses masing-masing ditengah perubahan yang terus bergelora.

Sebab tak ada kabar yang terhenti. Jurnalisme tetaplah utuh. Yang berubah hanyalah wadah. Dan Tribun Timur utuh menjalani itu hingga kini.(*)


Abdul Karim, Direktur LAPAR SULSEL 2007-2017

Sumber: https://makassar.tribunnews.com/2022/02/09/jurnalisme-utuh?page=all

Terbaru

Lainnya