SETARA Institute Paparkan Konsep Keberagaman dalam Diskusi LAPAR Sulsel

15-08-2021 - Berita
SETARA Institute Paparkan Konsep Keberagaman dalam Diskusi LAPAR Sulsel

MAKASSAR - Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel kembali melanjutkan Sosialisasi Publik LAPAR Sulsel Ketiga tentang toleransi dan keberagaman, Sabtu (14/8/2021) pagi.

Kali ini sosialisasi publik ketiga ini mengusung tema "Makassar menuju Kota Toleran Melalui Kebijakan yang Inklusif".

 

 

Halili Hasan, direktur Riset SETARA Institute jadi salah satu narasumber. Ia memaparkan materi tentang IKT dan Pemajuan Toleransi di Makassar.

 

 

"Pertama saya apresiasi Kota Makassar ini dalam identifikasi kami beberapa tahun terakhir, Kota Makassar cukup aktif, dua tiga tahun masifkan terjadi progres kemajuan dalam soal merawat kebhinekaan, dan memajukan praktik toleransi," kata Hasan melalui virtual.

 

 

Hasan mengatakan baru-baru ini bertemu Wali Kota Makassar, Danny Pomanto dalam sebuah seminar nasional secara virtual.

Dalam kesempatan itu, Danny Pomanto menyampaikan keinginannya mendorong dan mewujudkan toleransi di kota pemerintahannya.

 

 

"Saya ingat betul, pak Danny, di seminar kami, beliau tegaskan soal bagaimana komitmen agar Kota Makassar jadi lebih maju dalam toleransi dan menghormati keberagaman," kata Hasan.

 

 

Menurutnya materi dan tor yang diamanahkan kepadanya sejalan dengan semangat toleransi di Kota Makassar.

"Apa yang tergambar dalam tor yang diberikan kepada saya, apa yang jadi spirit sejalan apa yang ditegaskan politik leadership di kota Makassar," katanya.

 

 

Dalam paparannya Hasan mengingatkan spirit duo proklamator Bung Karno dan Bung Hatta dalam mengakomodir beragam perbedaan dalam mendirikan negara Indonesia setelah terbebas dari penjajah Belanda.

 

"Konsepsi toleransi berangkat dari refleksi ontologis Bung Karno mengenai ber-Tuhan secara berkebudayaan dan Bung Hatta tentang Sikap menghormati sebagai jalan menuju kebenaran, kebaikan, kejujuran, dan persaudaraan," katanya.

 

 

Juga konsepsi pemikir toleransi dunia akademis Sara Bulard (1996) dan Thomas Scanlon (2003) mengenai Toleransi.

Hasan mengatakan, ada tiga sintesis kita sampaikan soal toleransi diekspresikan melalui tiga hal, pertama penerimaan.

 

 

Kedua pengakuan, bukan hanya penerimaan tapi juga pengakuan di dalam eksistensi ada hak yang dijaga dan dilindungi.

 

 

Ketiga inklusi situasi ketika keberagaman dianggap sebagai relasi antar elemen saling kuatkan satu sama lain.

 

 

Menurutnya, keberagaman diletakkan sebagai kepingan puzzle dalam sebuah potret besar kebhinekaan.

 

 

Apapun bentuknya besarannya itu menguatkan sehingga satu entitas bisa dianggap full karena masing puzzle saling mengikat.

 

 

SETARA Intitute, menetapkan kota toleran pada beberapa elemen konsepsi.

Pertama, disebut kota toleransi yaitu kota dengan kebijakan pemerintah kota, perlu entitas di kota, dan relasi rutinitas warga kota yang berpijak pada toleransi yang letakkan penghormatan atas kebhinekaan sebagai panduan perlakukan identitas dengan yang lain.

 

 

"Berangkat dari konsep itu kami tetapkan elemen kota toleran kota memiliki atribut berikut, pemkot punya visi, rencana pembangunan serta kebijakan yang inklusif, mendukung keberagaman, serta mempraktikkan dan memajukan toleransi, baik dalam bentuk perencanaan maupun pelaksanaan," katanya.

 

 

Sumber: https://makassar.tribunnews.com/2021/08/15/setara-institute-paparkan-konsep-keberagaman-dalam-diskusi-lapar-sulsel?page=all