LAPAR Sulsel Sebut Pentingnya Pengakuan pada Keberagaman Makassar

31-07-2021 - Berita
 LAPAR Sulsel Sebut Pentingnya Pengakuan pada Keberagaman Makassar

Direktur Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel, Muhammad Iqbal Arsyad mengatakan pentingnya pemajuan toleransi di Kota Makassar.

Hal itu pun mendorong lahirnya rancangan Peraturan Wali Kota (RAD) Kerukunan dan Keberagaman.

Iqbal mengatakan, ada sejumlah latar belakang dan ide lahirnya draf Perwali itu.

 

Pertama LAPAR Sulsel melihat Makassar adalah kota heterogen, multi agama, etnis, suku.

Menurutnya, keberagaman ini kalau tidak dikelola dengan baik berpotensi melahirkan benih-benih konflik.

"Untuk itu perlu ada aturan yang atur keberagaman atau etnisitas di Kota Makassar," katanya dalam Sosialisasi Publik LAPAR Sulsel secara virtual, Sabtu (31/7/2021).

Kedua, Iqbal mengatakan, perlu pengakuan terhadap keberagaman, walaupun perbedaan itu sunnatullah, itu landasan umat bersama, dalam realitas sehari-hari ternyata perbedaan ini belum bisa diterima di tengah-tengah masyarakat.

Iqbal mengungkapkan, masih ada kelompok lihat perbedaan ini sebagai problem, sehingga perlu ada aturan atur keberagaman.

"Ketiga beberapa tahun belakangan ini ada sejumlah kebijakan diskriminatif terhadap kelompok tertentu," ungkapnya.

Iqbal mencontohkan, tahun 2017 ada Surat Edar keluar dari Sekprov Sulsel menyatakan larangan aktifitas salah satu kelompok keagaman.

 

 

Pihaknya pun mencoba meminta klarifikasi. Namun Sekprov Sulsel beralasan surat edaran itu belum sempat keluar dari masyarakat dan sifatnya masih draf.

Akan tetapi karena banyak draf tidak sempat keluar, walau tidak keluar ke publik secara resmi, anehnya Surat Edaran itu, pada tahun 2017 keluar Surat Edaran dengan bunyi sama di Makassar 2019 merujuk tahun 2017.

"Tapi ternyata rujukan ini menurut sekprov tidak pernah dikeluarkan. Terakhir tahun ini keluar di Parepare 2021, dan Gowa 2019," katanya.

 

Keempat, Iqbal mengatakan menguatnya kasus intoleransi, beberapa catatan LAPAR, ada banyak kasus intoleransi khususnya di Kota Makassar, khususnya 10 tahun.

Kelima Iqbal mengatakan, Kota Makassar tingkat toleransi rendah, ini berdasarkan survei setara institute, Makassar terendah, urutan ketiga dari bawah dari kota-kota se-Indonesia.

"Namun ada potensi kami lihat di Makassar di mana kerukunan toleransi jadi perhatian bersama khususnya organisasi masyarakat sipil, kami lihat 5 tahun belakangan ini banyak muncul organisasi sipil, baik organisasi sipil lama maupun yang baru didirikan," terangnya.

Menariknya, kata Iqbal, organisasi baru rata-rata digerakkan oleh kalangan anak muda.

Ini ada potensi untuk bisa dikembangkan sehingga jadi kekuatan menciptakan kerukunan dan kedamaian di Kota Makassar.

Di sisi lain, ada forum-forum dibentuk pemerintah yang urusi kerukunan dan keberagaman, misalnya forum kerukunan umat beragama dibentuk Pemkot untuk jaga kerukunan umat beragama.

Dan forum kerukunan kebangsaan itu dihimpun dari berbagai etnis, menjaga kerukunan di Makassar.

Namun forum itu perlu dukungan dari berbagai pihak jalankan tugas-tugasnya.

"Terakhir visi misi wali kota saya rasa mendorong lahirnya terciptanya suasana rukun tertuang visi misi wali kota redaksi penguatan keummatan, ini tertuang dalam visi misinya," kata Iqbal.

Secara yuridis, Iqbal dkk menyusun perwali merujuk peraturan sebelumnya, misalnya UU dasar 1945 pasal 29 ayat 1 menyatakan negara ketuhanan yang maha esa dan menjamin agama penduduk. 

 

 

 

Sumber: https://makassar.tribunnews.com/2021/07/31/lapar-sulsel-sebut-pentingnya-pengakuan-pada-keberagaman-makassar?page=3